Cerita Misteri Kerawang, Santet Hantu Kolong Wewe

Cerita Misteri – Suara benda jatuh mengejutkan kami. Benda itu berasal dari arah belakang, yang sepertinya dari arah dapur. Aku dan Rudi menghampiri sumber suara, Ahmad dan Yogi tidak menghentikan lantunan ayatnya. Benar saja, panci kecil, beberapa sendok makan sudah tergeletak di lantai.

“Rumah ini banyak tikus ternyata ya,” Rudi berdecak kesal dan berusaha menjernihkan pikiran nya dengan hal yang lebih logis.
Aku tertawa kecil, “Yakin, ada tikus sebesar balita?” bukan untuk menakut-nakuti Rudi, aku memang melihat ada sekelebat bayangan seperti anak kecil yang melintas dan kabur sesaat kami aku dan Rudi masuk ke dapur.

“Ada apa disini, Giya?” tiba-tiba saja Yogi sudah di belakang kami. “Penampakan anak kecil, hanya bayangan tipis saja, tidak berbahaya.”

Kami semua bekerja sama dengan sangat baik, disini kami meminimalisir gangguan-gangguan ghaib yang hadir sekecil apapun itu, di ruangan tengah suara lantang Ahmad yang sedang mengaji dapat menenangkan kami semua.

“Semakin malam, mahluk apapun akan banyak hadir di sini untuk mengganggu prosesnya. Dan kalau kita beruntung, wewe gombel yang dimaksud oleh Pak Buana juga akan menampakkan dirinya. Persiapkan dirinya, terutama Giya, kalau lelah atau merasa pusing tolong kasih tau aku,” Yogi menjelaskan dengan telapak tangan yang menghitam karena garam – yang katanya, garam itu didapatkan dari Guru Besar Ahmad dan Yogi di pesantren, berfungsi untuk mengusir energi jahat.

Baca Juga : Berita Mistis Ini Bukan Untuk Penakut

“Yog, aku laper. Masak mie dulu gimana? Ngusir setan kayaknya gak baik kalo perut keroncongan. Rudi mencari makanan di sekitar dan mendapatkan beberapa bungkus mie instant.
“Ide bagus Rud, aku yang masakin ya. Kalian lanjutin aja dulu,” aku meletakkan botol air tadi di dekat lemari piring. Kemudian mencuci panci kecil yang terjatuh tadi, mengisinya dengan air mentah, dan menyalakan kompor.

Tepat pukul 11 malam, udara semakin dingin. Tidak ada penerangan apapun lagi kecuali lilin kecil di depan kami masing-masing. Perut yang tadi sudah terisi lumayan memberikan kami sedikit energi lebih untuk melanjutkan ritual pengusiran.

 

Kali ini kami berempat sudah terpencar, kecuali aku dan Rudi. Ahmad dan Yogi sudah melanjutkan pembacaan ayat pengusir jin di masing-masing ruangan; Ahmad masih bertahan di ruang tengah, Yogi di kamar Pak Buana dan istrinya, aku dan Rudi di perbatasan menuju ruangan belakang dekat dengan dapur dan kamar mandi.

 

Kami semua diserang oleh keheningan, tidak ada yang bersuara dan terdengar kecuali lantunan ayat khusus pengusiran jin.

Aku memang tidak hafal dengan ayat-ayat yang dibaca oleh mereka, begitu juga dengan Rudi, tapi aku salut dengan kegigihannya yang berusaha berkonsentrasi meskipun dengan rasa takut yang terasa jelas dan terus berkomat-kamit membaca buku catatan kecilnya sambil membaca ayat tersebut berulang-ulang. Aku memejamkan mata, dan mengerjapkannya berkali-kali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *